Apa Ahlussunnah Wal Jama’ah
Ahlusunnah wal jama’ah adalah salah satu jalan pendekatan diri kepada Allah SWT yang perpegang kepada 4 (empat) :
1. Al-Qur’an
2. Hadits
3. Ijma’
4. Qiyas
Arti Ahlussunnah wal jama’ah itu sendiri diambil dari Hadits Rasulullah SAW yang beliau sabdakan :
“Islam akan menjadi terbagi menjadi 73 golongan, satu golongan yang masuk surga tanpa di hisab”, sahabat berkata : siapakah golongan tersebut ya Rasulullah ?, Nabi bersabda : “ Ahlussunnah wal jama’ah“.
Yang kita tanyakan, apa itu Ahlussunnah wal jama’ah ?
Semua golongan mengaku dirinya Ahlussunnah tetapi sebenarnya mereka bukan Ahlussunnah wal jama’ah karena banyak hal-hal yang mereka langgar yang mereka jalankan di dalam ajaran agama Islam, tetapi tetap mereka mengakui diri mereka yang benar. Sebenarnya kita harus mengetahui apa yang kita pelajari di dalam agama Islam atau yang kita amalkan di dalam Islam maka kita akan mengetahui kebenarannya di dalam ajaran Ahlussunnah wal jama’ah. Allah SWT telah mengucapkan di dalam surat Al Fatihah pada ayat yang 5 dan ayat yang ke 6, Allah SWT mengucapkan di dalam ayat yang ke 5 jalan yang lurus dan pada ayat yang ke 6 jalan-jalan mereka, yang kita tanyakan siapa mereka-mereka itu ?
Ulama Ahlussunnah wal jama’ah mereka bersepakat :
1. Mereka adalah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabatnya
2. Penerus sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang dinamakan Tabi’in
3. Tabi’-tabi’in adalah pengikut yang mengikuti orang yang belajar kepada
sahabat Rasulullah SAW.
4. Dan para ulama sholihin.
Yang ditanyakan siapa mereka para ulama sholihin itu ?
Ulama sholihin adalah ulama-ulama yang mengikuti jejak mereka di atas yang 3 dan ulama ini sangat banyak sekali di muka bumi maka mereka menamai dirinya atau golongannya dengan nama “Ahlussunnah wal jama’ah ”.
Apa yang mereka ajarkan ?
Kita akan mengenalkan mereka dengan kitab-kitabnya yang telah tersebar luas di dunia seperti Imam Ghozali, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Maliki dan banyak daripada itu pula dari keturunan Rasulullah SAW yang menamai julukan mereka habaib atau habib, diantara mereka adalah Al habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad yang satu diantara karangannya adalah Nashoihuddiyyah dan banyak lagi yang lainnya.
Cara-cara mereka akan lebih dekat kita kenal dengan amalan-amalan mereka yang sering kita dapati di tiap-tiap wilayah diantaranya mereka mendirikan perkumpulan dengan pembacaan sejarah Nabi Muhammad SAW yang dinamakan dengan “Maulid” dan pembacaan Do`a Qunut, Tahlil, Ratib, Ziarah Kubur, Pengadaan Haul para Aulia, Ini diantara amalan-amalan Ahli Sunah Wal Jama`ah.
Maka jika dijelaskan sangat panjang, silahkan anda membaca kitab/buku-buku yang dikarang oleh mereka dari karangan-karangan yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasulullah SAW, kita akan mengetahui kebenaran ilmu mereka maka kita harus prihatin di zaman ini banyak sekali golongan-golongan yang akan menyesatkan umat manusia karena kebodohan dan kurangnya pengertian jalan yang mereka ikuti sehingga mereka terjerumus kedalam jalan golongan-golongan yang sesat, maka berhati-hatilah membawa diri kita dan keluarga kita agar kita tidak terjerumus kedalam golongan yang tidak ada jaminan dari Rasulullah SAW.
25.2.09
24.2.09
CERITA RAKYAT DARI KOTA TULUNGAGUNG
CERITA RAKYAT DARI KOTA TULUNGAGUNG
Asal Usul Nama KALANGBRET
(Babad Kalangbret)
Pada mulanya di Tulungagung ada seorang Adipati yang terkenal yaitu Adipati Betak Bedalem. Adipati Betak ini mempunyai 2 putri yang sangat cantik, yang pertama bernama Roro Inggit dan yang kedua bernama Roro Kembangsore.
Putri Adipati Betak yang kedua ini banyak disenangi Adipati-Adipati Muda, bahkan kecantikannya sangat terkenal di Kota-Kota lain smapai di Kerajaan Mojopahit. Kerajaan Mojopahit yang Putranya bernama Pangeran Lembu Peteng, sebagai Pangeran yang sangat bagus parasnya juga mempunyai Keris yang sangat ampuh kegunaannya (Digdoyo). Pangeran Lembu Peteng ini juga berada di lingkungan Kadipatenan Bedalem, selain Pangeran Lembu Peteng juga ada Kasan Besari dan Adipati Kalang, yang sama-sama ada di lingkungan Kadipaten.
Pangeran Lembu Peteng dan Adipati Kalang sama-sama jatuh cinta kepada Putri Adipati Betak yang bernama Roro Kembang Sore. Roro Kembangsore sangat cocok dan cinta kapada Pangeran Lembu Peteng, dan akhirnya kedua pasangan ii dinikahkan oleh Adipati Betak Bedalem (ayahnya Roro Kembang Sore). Mendengar berita itu, Adipati Kalang sangat marah dan murka, akhirnya Adipati Kalang mempunyai rencana membunuh Pangeran Lembu Peteng.
Pada waktu Pangeran Lembu Peteng dan Roro Kembang Sore Sungkem pada Adipati Betak, tiba-tiba Adipati Kalang mengeluarkan kerisnya dan langsung di tancapkan pada Pangeran Lembu Peteng dari arah belakang, dan matilah Pangeran Lembu Peteng. Adipati Kalang mengamuk setelah membunuh Pangeran Lembu Peteng. Adipati juga membunuh kedua orang tuanya Roro Kembang Sore, yaitu Adipati Betak Bedalem dan Istrinya. Roro Ringgit juga Roro Kembang Sore melarikan diri mencari keselamatannya masing-masing. Roro Kembang Sore akhirnya ada di pertapaan Gunung Cilik, Semedi. Kesaktian Keris dari Suaminya sangat terkenal bahkan sampai terdengar oleh Adipati Kalang berniat untuk memilikinya. Adipati Kalang ingin tahu Pusaka ampuh itu, makanya dia pergi ke Gunung Cilik dengan jalan Jongkok dan tunduk. Sampai ke Gunung Cilik, semua persyaratan dari Roro Kembang Sore. Akhirnya sampailah Adipati Kalang di Gunung Cilik, dan wanita yang tidak kenal itu menyuruh supaya Adipati Kalang menengadah dan dan melihat siapa yang ada di depannya, betapa kagetnya Adipati Kalang, ternyata orang yang menyuruh di Gunung Cilik itu ialah Roro Kembang Sore.
Utusan dari Mojopahit waktu itu juga ada di Gunung Cilik, Patih Gajah Mada beserta Prajuritnya. Patih Gajah Mada tahu kalau pembunuh Putra Kerajaan Mojopahit Pangeran Lembu Peteng adalah Adipati Kalang pembunuhnya. Adipati Kalang lari terbirit-birit karena terus dikejar oleh Patih Gajah Mada dan Adipati Kalang badannya “di suwir-suwir” oleh Patih Gajah Mada, akhirnya tempatnya dinamakan Cuwiri dan Adipati Kalang lari kepergok oleh Patih Gajah Mada. Lalu tempat itu dinamakan “Bantelan” dan Adipati Kalang lari lalu si sembret-sembret terus tempat nya dinamakan “Kalangbret“, akhirnya Adipati Kalang jatuh dan masuk ke Kedung. Akhirnya “Ngesong” ke dalam dan dinamakan Kali Song. Akhirnya Adipati Kalang mati di dalam sugnai tersebut. Dan mayatnya tersangkut di pohon aren. Oleh Patih gajah Mada dinamakan “Batangsaren”.
Inilah cerita dari Wilayah Kalangbret Tulungagung yang kejadiannya di sekitar Wilayah Kalangbret sini. Nama-nama di bawah ini semua pemberian nama dari Patih Gajah Mada.
Adipati Kalang di suwir-suwir ® Cuwiri
Adipati Kalang kebentel ® Bantelan
Adipati Kalang jatuh diam (Tiba Meneng) ® Boneng
Adipati Kalang di sembret-sembret ® Kalangbret
Adipati Kalang masuk kedung ngesong ® Kali Song
Adipati Kalang mati tersangkut di pohon aren ® Batangsaren
Lalu nama itu di abadikan menjadi nama-nama Desa dan Dusun oleh masyarakat sekitar. Dan mereka menjadikan atau membuat cerita tersebut ke dalam ketoprak dan diselenggarakan pada hari-hari tertentu. Dan mereka sangat senang gembira karena diwarisi kebudayaan yang sangat berharga.
Asal Usul Nama KALANGBRET
(Babad Kalangbret)
Pada mulanya di Tulungagung ada seorang Adipati yang terkenal yaitu Adipati Betak Bedalem. Adipati Betak ini mempunyai 2 putri yang sangat cantik, yang pertama bernama Roro Inggit dan yang kedua bernama Roro Kembangsore.
Putri Adipati Betak yang kedua ini banyak disenangi Adipati-Adipati Muda, bahkan kecantikannya sangat terkenal di Kota-Kota lain smapai di Kerajaan Mojopahit. Kerajaan Mojopahit yang Putranya bernama Pangeran Lembu Peteng, sebagai Pangeran yang sangat bagus parasnya juga mempunyai Keris yang sangat ampuh kegunaannya (Digdoyo). Pangeran Lembu Peteng ini juga berada di lingkungan Kadipatenan Bedalem, selain Pangeran Lembu Peteng juga ada Kasan Besari dan Adipati Kalang, yang sama-sama ada di lingkungan Kadipaten.
Pangeran Lembu Peteng dan Adipati Kalang sama-sama jatuh cinta kepada Putri Adipati Betak yang bernama Roro Kembang Sore. Roro Kembangsore sangat cocok dan cinta kapada Pangeran Lembu Peteng, dan akhirnya kedua pasangan ii dinikahkan oleh Adipati Betak Bedalem (ayahnya Roro Kembang Sore). Mendengar berita itu, Adipati Kalang sangat marah dan murka, akhirnya Adipati Kalang mempunyai rencana membunuh Pangeran Lembu Peteng.
Pada waktu Pangeran Lembu Peteng dan Roro Kembang Sore Sungkem pada Adipati Betak, tiba-tiba Adipati Kalang mengeluarkan kerisnya dan langsung di tancapkan pada Pangeran Lembu Peteng dari arah belakang, dan matilah Pangeran Lembu Peteng. Adipati Kalang mengamuk setelah membunuh Pangeran Lembu Peteng. Adipati juga membunuh kedua orang tuanya Roro Kembang Sore, yaitu Adipati Betak Bedalem dan Istrinya. Roro Ringgit juga Roro Kembang Sore melarikan diri mencari keselamatannya masing-masing. Roro Kembang Sore akhirnya ada di pertapaan Gunung Cilik, Semedi. Kesaktian Keris dari Suaminya sangat terkenal bahkan sampai terdengar oleh Adipati Kalang berniat untuk memilikinya. Adipati Kalang ingin tahu Pusaka ampuh itu, makanya dia pergi ke Gunung Cilik dengan jalan Jongkok dan tunduk. Sampai ke Gunung Cilik, semua persyaratan dari Roro Kembang Sore. Akhirnya sampailah Adipati Kalang di Gunung Cilik, dan wanita yang tidak kenal itu menyuruh supaya Adipati Kalang menengadah dan dan melihat siapa yang ada di depannya, betapa kagetnya Adipati Kalang, ternyata orang yang menyuruh di Gunung Cilik itu ialah Roro Kembang Sore.
Utusan dari Mojopahit waktu itu juga ada di Gunung Cilik, Patih Gajah Mada beserta Prajuritnya. Patih Gajah Mada tahu kalau pembunuh Putra Kerajaan Mojopahit Pangeran Lembu Peteng adalah Adipati Kalang pembunuhnya. Adipati Kalang lari terbirit-birit karena terus dikejar oleh Patih Gajah Mada dan Adipati Kalang badannya “di suwir-suwir” oleh Patih Gajah Mada, akhirnya tempatnya dinamakan Cuwiri dan Adipati Kalang lari kepergok oleh Patih Gajah Mada. Lalu tempat itu dinamakan “Bantelan” dan Adipati Kalang lari lalu si sembret-sembret terus tempat nya dinamakan “Kalangbret“, akhirnya Adipati Kalang jatuh dan masuk ke Kedung. Akhirnya “Ngesong” ke dalam dan dinamakan Kali Song. Akhirnya Adipati Kalang mati di dalam sugnai tersebut. Dan mayatnya tersangkut di pohon aren. Oleh Patih gajah Mada dinamakan “Batangsaren”.
Inilah cerita dari Wilayah Kalangbret Tulungagung yang kejadiannya di sekitar Wilayah Kalangbret sini. Nama-nama di bawah ini semua pemberian nama dari Patih Gajah Mada.
Adipati Kalang di suwir-suwir ® Cuwiri
Adipati Kalang kebentel ® Bantelan
Adipati Kalang jatuh diam (Tiba Meneng) ® Boneng
Adipati Kalang di sembret-sembret ® Kalangbret
Adipati Kalang masuk kedung ngesong ® Kali Song
Adipati Kalang mati tersangkut di pohon aren ® Batangsaren
Lalu nama itu di abadikan menjadi nama-nama Desa dan Dusun oleh masyarakat sekitar. Dan mereka menjadikan atau membuat cerita tersebut ke dalam ketoprak dan diselenggarakan pada hari-hari tertentu. Dan mereka sangat senang gembira karena diwarisi kebudayaan yang sangat berharga.
22.2.09
Profil
Suara yang Menggetarkan Hati
Siang itu, matahari berteduh di balik awan putih, sehingga suasana tak begitu panas. Di komplek Perumahan Indah Desa Gondangmanis, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah kediaman yang memancarkan kesejukan bagi penghuninya.
Ya, itulah kediaman seorang Habib terkemuka di Kota Kretek ini; Habib Syech bin Abdul Qadir. Setiap tamu yang datang, selain silaturahim, mereka juga tidak lupa untuk meminta doa. Sebenarnya, dai yang lahir di Solo, 20 September 1961, agak kurang fit kondisinya. Tapi, beliau bersedia melungkan waktu untuk menyapa tamunya.
Begiut pula, ketika crew PARADIGMA singgah waktu itu. Senyumnya mengembang menguarkan keramahan. “Ahlan wa sahlan, kaifa khaluk?” sambutnya ramah.
Ketenarannya di kota religius dan modern ini, tidak diragukan lagi. Lantaran gelombang dakwahnya yang dahsyat, dan mendapat banyak simpati masyarakat. Sebelum berdakwah di Kudus dan mengasuh Jamiyyah Shalawat Ahbabul Mustofa, lelaki yang hobi bershalwat, sudah lama berjuang mensyiarkan Islam di kota kelahirannya. Di Solo, beliau mendirikan yayasan yang bergerak di bidang dakwah, Fosmil (Forum Minggu Legi, red) begitu Habib yang bersuara sejuk ini menamakannya.
Bukan tanpa alasan, tapi nama itu merupakan interpretasi dari kearifan lokal masyarakat Solo. Minggu, ditahbiskan agar semua masyarakat bisa menerima. Sedangkan Legi, supaya masyarakat jawa juga merasa dihormati, dan dapat menerima pula.
“Segala yang besar, berawal dari hal kecil,” ungkap Habib Syech. Begitu pula dengan Jamiyyah Ahbabul Mustofa Kudus. Pada saat itu kisahnya, Habib Muhammad Al Kaf, Manajer Jamiyyah Ahbabul Mustofa, asal Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Jati, Kudus, bertandang kerumahnya, dan meminta untuk berdakwah di Kudus.
“Daerah yang pertama kali saya sambangi, adalah Bacin,” terang Habib. Waktu itu, ujar beliau, jamiyyah yang saya asuh di Bacin belum bernama Ahbabul Mustofa, masih berupa jamiyyah-jamiyyah shalawat sebagaimana di tempat lain. Habib menambahkan, baru ketika intensitas jami’yyah semakin rutin, dan jumlah hadirin semakin banyak, kemudian baru da’i masyhur ini menggagas sebuah wadah perkumpulan orang-orang yang hub (cinta, red) kepada Nabi Muhammad SAW.
Akhirnya, kenang Habib Syech, lahirlah jamiyyah shalawat Ahbabul Mustofa, yang berarti kekasih-kekasih manusia pilihan Muhammmad.
Benih Cinta
Padatnya jadwal pengajian, dan aktifitas sehari-hari, tidak menghalangi Habib Syech untuk bersholawat bersama masyarakat. Dengan niat teguh menjadi orang bermanfaat, membuatnya selalu berlipat semangat. “Sebenarnya saya tidak mengunakan resep untuk menjaga stamina. Hanya, saya mempunyai keyakinan, kalau rasa cinta tertanam di hati kepada Baginda Rasul Muhammad SAW, segala rasa lelah akan sirna seketika,” tuturnya.
Kemudian, dia menghela nafas, beliau menuturkan kelelahan fisik akan terbenam dengan kelezatan nikmat dari syafaat Muhammad. “Sebaliknya, seletih apapun kita kalau berjumpa dengan kekasih kita, pasti akan merasa senang, rasa lelah juga hilang,” ujar Habib Syech.
Di antara pembicaraan panjang itu, Habib sempat menyinggung problem konflik antar umat. Menurutnya, keadaan bangsa yang kian bertambah rapuh, dikarenakan semangat untuk meniru dan mencintai Rasulullah SAW meluruh. Lagi-lagi, putra Abdul Qadir Assegaf dan Syarifah Bustan Al Qadiri ini, mengepakkan sayap petuahnya, kalau ingin memperbaiki keadaan bangsa ini, tanamkan rasa cinta kepada Nabi, karena beliaulah suri tauldan yang baik dan kunci keselamatan.
Suara Menggetarkan
Salah satu daya tarik tersendiri dari Habib yang pernah merantau di Arab Saudi selama 10 tahun ini adalah pada suaranya yang syahdu dan menggetarkan hati. Hampir tiap kali pengajian yang dihadirinya, jamaah membludak, mencapai ribuan orang. Bahkan terkadang ada yang menyatakan kedatangannya untuk mengikuti pengajian karena terdorong ingin mendengarkan suaranya yang khas. Ketika crew PARADIGMA menanyakan hal ini, beliau langsung menepisnya. “Saya ini hanya motor, ini semua berkat doa ulama terdahulu dan sekarang yang ada di kota ini, supaya masyarakar Kudus gemar bershalawat,” tuturnya.
Banyak orang yang berpendapat, sambungnya, bahwa saat saya melantunan qasidah (lagu sanjungan kepada Nabi Muahammad atau orang yang mulia dengan menggunakan bahasa Arab, red), mereka merasa asyik dan khusyuk. “Saya tidak mempunyai resep apa-apa untuk merawat suara, ini karunia Allah,” ujarnya tawadhu’.
Beliau juga mengenang masa kecilnya yang indah, “Ketika kecil, saya diminta ayah untuk membaca qasidah-qasidah ketika ulama-ulama bersilaturrahim ke rumah saya. Setidaknya keluar dari lisan mereka doa barokallahu fiik, hal ini mengalirkan berkah doa mereka juga”.
Kesehariannya sebagai seorang dai tidak menyebabkan beliau menanggalkan tanggungjawab duniawi. Di sela-sela kesibukannya, Habib Syech menyempatkan diri untuk bekerja. “Di rumah, saya mempunyai usaha kecil-kecilan, berdagang sorban dan baju muslim, saya juga menjual kaset, Rasulullah mengajari kita untuk bekerja, selain ‘amar makruf nahi ‘anil munkar. Agar kehidupan dunia dan akhirat seimbang dan terhindar dari sifat tama’ ”.
Dalam kurun waktu tujuh tahun berdakwah di Kudus ini, sosok Habib Syekh menjelma layaknya terminal kesejukan, tempat pemberhentian sementara para salik dan pecinta rasul. Sahut-menyahut merdu, mengobati kerinduan dan kehausan akan cinta, mengisi ruang kosong antara bumi dan langit. Tiada lain dan satu harapanya perjumpaan dengan kekasihnya, Muhammad SAW.
Ya nabi salam ‘alaika, ya rasul salam ‘alaika, ya habib salam ‘alaika, shalawatullah ‘alaika. [Zakki]
Wahai Pencinta Keluarga Nabi Muhammad SAW
Wahai pencinta keluarga Nabi Muhammad SAW bersatulah dan jangan bercerai berai, jangan pula mudah di adu domba oleh orang-orang yang ingin memisahkan kalian kepada keluarga Nabi Muhammad SAW, para habaib itulah satu darah yang wajib kita mencintai mereka semua karena ditubuh mereka ada darah Nabi Muhammad SAW.
Ilmu yang diajarkan mereka semua sama walaupun cara mereka berbeda-beda, kita sebagai pencinta keluarga Nabi Muhammad SAW tidak boleh menyalahkan perbedaan mereka karena kecintaan itu tidak melihat perbedaan, kecintaan yang tulus di dalam hati ialah ia akan selalu menjunjung tinggi keluarga Nabi Muhammad SAW dan selalu membantu segala kesusahan mereka dari setiap kesulitan dan ancaman orang-orang yang di dalam hatinya memiliki ketidak senangan terhadap cucu Nabi Muhammad SAW, bersatulah dengan menjunjung tinggi majelis-majelis mereka, cintai mereka seperti kamu mencintai dirimu sendiri karena Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an surat As-Syuro “katakanlah yaa Muhammad Engkau tidak meminta upah apapun dari dakwahmu, suruhlah umatmu mencintai keluargamu”
Dan di dalam surat Al-Kautsar Allah SWT berfirman : “Terputuslah mereka dari Rahmat Allah SWT bagi orang-orang yang yang membenci keluarga Nabi Muhammad SAW”.
Wahai pencinta keluarga Nabi Muhammad SAW orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani tidak akan pernah ridho dengan adanya akan habaib dan begitu juga golongan-golongan islam yang sekongkol dengan orang-orang yahudi, mereka bagaimana pun caranya berusaha untuk menghancurkan para habaib dan pengikut-pengikutnya dengan menyebarkan bermacam-macam fitnah dan mengadu domba, berhati-hatilah dan selalu memohon kepada Allah SWT agar selalu dikuatkan iman dan islam karena tidak ada tempat yang lebih indah nanti kecuali bersama kakek mereka yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai kakek para habaib dan Nabi yang terakhir untuk umat manusia.
Siang itu, matahari berteduh di balik awan putih, sehingga suasana tak begitu panas. Di komplek Perumahan Indah Desa Gondangmanis, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah kediaman yang memancarkan kesejukan bagi penghuninya.
Ya, itulah kediaman seorang Habib terkemuka di Kota Kretek ini; Habib Syech bin Abdul Qadir. Setiap tamu yang datang, selain silaturahim, mereka juga tidak lupa untuk meminta doa. Sebenarnya, dai yang lahir di Solo, 20 September 1961, agak kurang fit kondisinya. Tapi, beliau bersedia melungkan waktu untuk menyapa tamunya.
Begiut pula, ketika crew PARADIGMA singgah waktu itu. Senyumnya mengembang menguarkan keramahan. “Ahlan wa sahlan, kaifa khaluk?” sambutnya ramah.
Ketenarannya di kota religius dan modern ini, tidak diragukan lagi. Lantaran gelombang dakwahnya yang dahsyat, dan mendapat banyak simpati masyarakat. Sebelum berdakwah di Kudus dan mengasuh Jamiyyah Shalawat Ahbabul Mustofa, lelaki yang hobi bershalwat, sudah lama berjuang mensyiarkan Islam di kota kelahirannya. Di Solo, beliau mendirikan yayasan yang bergerak di bidang dakwah, Fosmil (Forum Minggu Legi, red) begitu Habib yang bersuara sejuk ini menamakannya.
Bukan tanpa alasan, tapi nama itu merupakan interpretasi dari kearifan lokal masyarakat Solo. Minggu, ditahbiskan agar semua masyarakat bisa menerima. Sedangkan Legi, supaya masyarakat jawa juga merasa dihormati, dan dapat menerima pula.
“Segala yang besar, berawal dari hal kecil,” ungkap Habib Syech. Begitu pula dengan Jamiyyah Ahbabul Mustofa Kudus. Pada saat itu kisahnya, Habib Muhammad Al Kaf, Manajer Jamiyyah Ahbabul Mustofa, asal Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Jati, Kudus, bertandang kerumahnya, dan meminta untuk berdakwah di Kudus.
“Daerah yang pertama kali saya sambangi, adalah Bacin,” terang Habib. Waktu itu, ujar beliau, jamiyyah yang saya asuh di Bacin belum bernama Ahbabul Mustofa, masih berupa jamiyyah-jamiyyah shalawat sebagaimana di tempat lain. Habib menambahkan, baru ketika intensitas jami’yyah semakin rutin, dan jumlah hadirin semakin banyak, kemudian baru da’i masyhur ini menggagas sebuah wadah perkumpulan orang-orang yang hub (cinta, red) kepada Nabi Muhammad SAW.
Akhirnya, kenang Habib Syech, lahirlah jamiyyah shalawat Ahbabul Mustofa, yang berarti kekasih-kekasih manusia pilihan Muhammmad.
Benih Cinta
Padatnya jadwal pengajian, dan aktifitas sehari-hari, tidak menghalangi Habib Syech untuk bersholawat bersama masyarakat. Dengan niat teguh menjadi orang bermanfaat, membuatnya selalu berlipat semangat. “Sebenarnya saya tidak mengunakan resep untuk menjaga stamina. Hanya, saya mempunyai keyakinan, kalau rasa cinta tertanam di hati kepada Baginda Rasul Muhammad SAW, segala rasa lelah akan sirna seketika,” tuturnya.
Kemudian, dia menghela nafas, beliau menuturkan kelelahan fisik akan terbenam dengan kelezatan nikmat dari syafaat Muhammad. “Sebaliknya, seletih apapun kita kalau berjumpa dengan kekasih kita, pasti akan merasa senang, rasa lelah juga hilang,” ujar Habib Syech.
Di antara pembicaraan panjang itu, Habib sempat menyinggung problem konflik antar umat. Menurutnya, keadaan bangsa yang kian bertambah rapuh, dikarenakan semangat untuk meniru dan mencintai Rasulullah SAW meluruh. Lagi-lagi, putra Abdul Qadir Assegaf dan Syarifah Bustan Al Qadiri ini, mengepakkan sayap petuahnya, kalau ingin memperbaiki keadaan bangsa ini, tanamkan rasa cinta kepada Nabi, karena beliaulah suri tauldan yang baik dan kunci keselamatan.
Suara Menggetarkan
Salah satu daya tarik tersendiri dari Habib yang pernah merantau di Arab Saudi selama 10 tahun ini adalah pada suaranya yang syahdu dan menggetarkan hati. Hampir tiap kali pengajian yang dihadirinya, jamaah membludak, mencapai ribuan orang. Bahkan terkadang ada yang menyatakan kedatangannya untuk mengikuti pengajian karena terdorong ingin mendengarkan suaranya yang khas. Ketika crew PARADIGMA menanyakan hal ini, beliau langsung menepisnya. “Saya ini hanya motor, ini semua berkat doa ulama terdahulu dan sekarang yang ada di kota ini, supaya masyarakar Kudus gemar bershalawat,” tuturnya.
Banyak orang yang berpendapat, sambungnya, bahwa saat saya melantunan qasidah (lagu sanjungan kepada Nabi Muahammad atau orang yang mulia dengan menggunakan bahasa Arab, red), mereka merasa asyik dan khusyuk. “Saya tidak mempunyai resep apa-apa untuk merawat suara, ini karunia Allah,” ujarnya tawadhu’.
Beliau juga mengenang masa kecilnya yang indah, “Ketika kecil, saya diminta ayah untuk membaca qasidah-qasidah ketika ulama-ulama bersilaturrahim ke rumah saya. Setidaknya keluar dari lisan mereka doa barokallahu fiik, hal ini mengalirkan berkah doa mereka juga”.
Kesehariannya sebagai seorang dai tidak menyebabkan beliau menanggalkan tanggungjawab duniawi. Di sela-sela kesibukannya, Habib Syech menyempatkan diri untuk bekerja. “Di rumah, saya mempunyai usaha kecil-kecilan, berdagang sorban dan baju muslim, saya juga menjual kaset, Rasulullah mengajari kita untuk bekerja, selain ‘amar makruf nahi ‘anil munkar. Agar kehidupan dunia dan akhirat seimbang dan terhindar dari sifat tama’ ”.
Dalam kurun waktu tujuh tahun berdakwah di Kudus ini, sosok Habib Syekh menjelma layaknya terminal kesejukan, tempat pemberhentian sementara para salik dan pecinta rasul. Sahut-menyahut merdu, mengobati kerinduan dan kehausan akan cinta, mengisi ruang kosong antara bumi dan langit. Tiada lain dan satu harapanya perjumpaan dengan kekasihnya, Muhammad SAW.
Ya nabi salam ‘alaika, ya rasul salam ‘alaika, ya habib salam ‘alaika, shalawatullah ‘alaika. [Zakki]
Wahai Pencinta Keluarga Nabi Muhammad SAW
Wahai pencinta keluarga Nabi Muhammad SAW bersatulah dan jangan bercerai berai, jangan pula mudah di adu domba oleh orang-orang yang ingin memisahkan kalian kepada keluarga Nabi Muhammad SAW, para habaib itulah satu darah yang wajib kita mencintai mereka semua karena ditubuh mereka ada darah Nabi Muhammad SAW.
Ilmu yang diajarkan mereka semua sama walaupun cara mereka berbeda-beda, kita sebagai pencinta keluarga Nabi Muhammad SAW tidak boleh menyalahkan perbedaan mereka karena kecintaan itu tidak melihat perbedaan, kecintaan yang tulus di dalam hati ialah ia akan selalu menjunjung tinggi keluarga Nabi Muhammad SAW dan selalu membantu segala kesusahan mereka dari setiap kesulitan dan ancaman orang-orang yang di dalam hatinya memiliki ketidak senangan terhadap cucu Nabi Muhammad SAW, bersatulah dengan menjunjung tinggi majelis-majelis mereka, cintai mereka seperti kamu mencintai dirimu sendiri karena Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an surat As-Syuro “katakanlah yaa Muhammad Engkau tidak meminta upah apapun dari dakwahmu, suruhlah umatmu mencintai keluargamu”
Dan di dalam surat Al-Kautsar Allah SWT berfirman : “Terputuslah mereka dari Rahmat Allah SWT bagi orang-orang yang yang membenci keluarga Nabi Muhammad SAW”.
Wahai pencinta keluarga Nabi Muhammad SAW orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani tidak akan pernah ridho dengan adanya akan habaib dan begitu juga golongan-golongan islam yang sekongkol dengan orang-orang yahudi, mereka bagaimana pun caranya berusaha untuk menghancurkan para habaib dan pengikut-pengikutnya dengan menyebarkan bermacam-macam fitnah dan mengadu domba, berhati-hatilah dan selalu memohon kepada Allah SWT agar selalu dikuatkan iman dan islam karena tidak ada tempat yang lebih indah nanti kecuali bersama kakek mereka yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai kakek para habaib dan Nabi yang terakhir untuk umat manusia.
17.2.09
mu'jizat berpikir besar
beberapa tahun yang lalu ada sebuah rapat penjualan yang mengesankan. direktur yang bertanggung jawab atas penjualan diperusahaan tersebut sangat bergairah. ia ingin menyampaikan suatu hal penting. disampingnya adalah wiraniaga terkemuka didalam organisasi tersebut, orang yang sederhana yang meskipun begitu, sudah menghasilkan $1000.000 pada tahun yang baru saja berakhir. pendapatan para wiraniaga yang lain rata-rata $200.000 setahun.
sang direktur menantang rapat tersebut. inilah yang ia katakan"saya ingin kalian semua memperhatikan Hendry baik-baik, dan tanyakan kepada dirikalian sendiri apa yang Hendry miliki dan yang tidak kalian miliki. hendry mendapatkan 5 kali lebih banyak dari rata-rata, tetapi apakah Hendry lebih cerdik dari kalian? tidak, tidak demikian menurut tes personalia kami. "Dan apakah Hendry bekerja lebih keras dibanding kalian semua?kembali jwabannya tidak.laporannya rata-rata sama. apakah Harry berpendidikan lebih tinggi?kesehatannya lebih baik?Tidak. Hendry kira-kira sama dengan rata-rata pada umumnya_kecuali satu hal...!!!
"perbedaan diantara hendry dan kalian semua adalah Hendry BERPIKIR lima kali lebih BESAR."
sang direktur menantang rapat tersebut. inilah yang ia katakan"saya ingin kalian semua memperhatikan Hendry baik-baik, dan tanyakan kepada dirikalian sendiri apa yang Hendry miliki dan yang tidak kalian miliki. hendry mendapatkan 5 kali lebih banyak dari rata-rata, tetapi apakah Hendry lebih cerdik dari kalian? tidak, tidak demikian menurut tes personalia kami. "Dan apakah Hendry bekerja lebih keras dibanding kalian semua?kembali jwabannya tidak.laporannya rata-rata sama. apakah Harry berpendidikan lebih tinggi?kesehatannya lebih baik?Tidak. Hendry kira-kira sama dengan rata-rata pada umumnya_kecuali satu hal...!!!
"perbedaan diantara hendry dan kalian semua adalah Hendry BERPIKIR lima kali lebih BESAR."
Langganan:
Postingan (Atom)

